suasana terasa sangat kaku. Kedua manusia yang berhadap-hadapan diam beribu bahasa. Detik demi detik berlalu. Kini cherin bisa menggerakan bibirnya. Tanpa mengeluarkan suara. Ludahnya kering, lidahnya kelu.
“ternyata rumahku ada dibelakang rumahmu.” kata uya dengan tampang innocentnya. “lalu kamarku tepat berada dibelakang kamar mandimu, jadi sekarang aku punya dua kamar mandi di kamarku ^^” Tampangnya masih innocent, tapi jelas terlihat bloon dimata cherin. “aish,” desah uya sambil memukul jidatnya dengan telapak tangan, “kita udah telat nih. Ayo cepet!” ujar uya dengan segera menarik tangan cherin yang belum sadar 100 persen. Cherin hanya pasrah saja, otaknya masih belum dapat bekerja dengan normal. Dia masih belum bisa mencerna semuanya dengan baik.
uya terus menarik cherin. Memaksa gadis itu untuk melangkahkan kakinya. Saat cherin berhasil mengendalikan pikirannya dia baru sadar kalau dia sudah duduk di bangku taman kota.
“ngapain kita disini?” tanya cherin, dia berdiri dan hendak melarikan kakinya. Tapi tangan sigap uya berhasil menarik lengan cherin hingga wanita itu terduduk disebelahnya.
“mau kemana?” tanya uya dengan raut wajah yang serius,tapi tawanya langsung meledak ketika dilihatnya cherin memonyongkan bibirnya hingga mirip ikan mas koki.
“harusnya kita sekolah!” ujar cherin,masih dengan bimolinya (baca:bibir monyong lima centi)
“sekolahnya besok aja, sekarang kita maen dulu.” baru saja cherin mau bicara tapi sebuah pisang berhasil menyumpal mulutnya. Dengan raut wajah yang sangat kesal, cherin mengambil paksa pisang yang belum dikupas dari dalam mulutnya kemudian memukulkan pisang naas itu ke kepala uya.
“pokoknya aku mau sekolah!” bentak cherin.
“jadi kamu mau ninggalin aku sendiri?” tanya uya tiba-tiba,dengan raut wajahnya yang tampak begitu memelas. Seketika cherin merasa iba ketika melihat wajah monyet malang dihadapannya. “kita sahabat kan? Aku percaya sama kamu,kalau kamu nggak akan ninggalin aku.” mendengar kalimat yang meluncur dari mulut uya, cherin langsung terpaku. Ada sebuah ingatan yang menghantam kepalanya. Pedih. Dia teringat akan sahabat masalalunya. Untuk yang kesekian kalinya cherin mengingat kenangan itu dengan rasa sakit yang sempurna menggerogoti hatinya.
Cherin masih membeku, tapi sepertinya uya tidak peka, karena yang dia lakukan bukan bertanya kenapa cherin diam, uya malah asyik mengupas pisang dan melahapnya penuh nafsu. Setelah pisang persediaannya habis, barulah uya menoleh dan memerhatikan gadis malang di sebelahnya. Cherin menatap kedua ujung sepatunya dengan tatapan nanar. Dia sungguh tidak berdaya dalam kondisi itu.
“kamu kenapa?” tanya uya keheranan. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut mungil cherin. “laper ya?” tanya uya. Cherin tetap tak berkutik. Dia tetap diam dan memandangi ujung sepatunya yang sudah uzur.
“hei!” uya menggoyang-goyangkan tubuh cherin yang tak berdaya. “kamu kenapa??” tubuh cherin makin terguncang hebat. Sepertinya ia mulai merasakan pusing yang berlebih hingga mual akibat guncangan pada tubuhnya.
“stop!” seru cherin berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Seketika itu juga uya menghentikan aktivitasnya. Akibat yang ditimbutkan adalah : cherin langsung terjungkal ke belakang karena uya sempat menghempaskan cherin. Maklum keadaan cherin waktu itu masih limbung. Sepertinya ada benjolan besar dikepala cherin. Sekarang cherin meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Sedangkan uya terdiam memandangi bentuk cherin, yang menurut uya begitu menakjubkan.
“woi,tolongin tolol! Malah bengong!” bentak cherin emosi melihat tampang bloon uya.
“eh,iya,aku lupa,padahal aku pengen ketawa.” seketika itu juga uya tertawa terbahak-bahak hingga jungkir balik dan morat marit.
Apaan sih nih orang,telat banget . Pikir cherin. Dasar orang gila. Cherin berdiri sendiri, dia mendegus karena melihat monyet sialan didepannya. Karena sangat kesal, cherin pun melangkahkan kakinya menjauh dari bangku taman ya hina itu. Tapi uya mengekor mengikuti cherin tanpa mengurangi tawanya yang terdengar seperti tiupan sangkakala di telinga cherin. Gadis malang tanpa kerudung merah itu mempercepat langkah kakinya. Tapi uya tetap bisa mengekor dengan sempurna dibelakangnya.
“kamu ngapain ngikutin aku terus?” tanya cherin geram.
“tadikan,” kata uya sambil mengatur napas, “tadi kan, kita pergi bareng, kalo mau pulang atau kemana-mana juga harus bareng.” kata uya sedikit terengah-engah karena lelah tertawa.
Cherin hanya diam, sepertinya ia masih kesal pada uya.
“eh,kepalamu,” ucap uya sambil membelai kepala cherin yang benjol. “sakit, ya?” cherin terdiam. Ia bingung atas perlakuan uya padanya.
“apaan sih?” protes cherin kemudian melepaskan diri dari cengkeraman tangan uya yang ternyata dari mengelus-elus berubah menjadi sedikit menoyor-noyor.
“aku kan khawatir…” ucap uya, wajahnya langsung berubah seperti seekor monyet kecil yang pisangnya dirampas. menyedihkan. Yak, seekor uya atau seorang monyet kecil yang benar-benar membuat suasana hati cherin berubah-ubah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Seketika itu juga cherin menjadi begitu iba pada uya.
“hey,” sama cherin dengan segala kelembutannya. Cherin mengusap pipi uya dengan sayang. Tak disangka-sangka ternyata uya memegangi tangan cherin. Adegan yang tadinya seromantis film hollywood berubah drastis. Uya memang memegangi tangan cherin, tapi dia juga mengelus-eluskan pipinya ke tangan cherin, bak seekor kucing yang sedang mendapat sebatang kayu yang digunakan untuk menggaruk-garukkan kepalanya. Cherin tercengan hebat, dia sangat syok dengan kenyataan yang dilihatnya. Setelah tersadar dari keterpurukan sesaatnya, cherin segera menarik tangannya. Uya dengan wajah bayi monyetnya langsung terkejut. Matanya memancarkan pertanyaan yang tak bisa terjawab oleh cherin “kenapa?” pertanyaan itu tergambar sangat jelas dimata uya. Tanpa menanggapi, cherin memerintahkan kakinya untuh melangkah menjauhi uya.
-
cherin melangkah gontai menuju kasur buluknya yang tak empuk dan sedikit memberi kehangatan. Kakinya terasa mau copot. pikiran, hati dan badannya terasa seperti diforsir selama berabad-abad.
Seharian ini cherin sukses menjerumuskan dirinya bersama laki-laki mirip monyet yang telah membawanya keliling kota. Awalnya hanya karena rasa iba yang muncul saat melihat mata uya memancarkan penderitaan yang teramat sangat. Hingga akhirnya cherin mau menuruti segala yang diminta uya.
Awalnya si monyet mengajaknya makan di angkringan, alasannya adalah, si monyet kaya raya itu belum pernah makan di tempat seperti itu. Kemudian, dia meminta cherin untuk mengajaknya naik bis. Lalu naik becak, kemudian andong, kemudian berjalan di sepanjang trotoar jalan sambil mampir disetiap lapak pedagang kaki lima yang mereka jumpai. Cherin menghembuskan nafas berat.
“aku bisa mati sia-sia kalo kayak gini terus.” bisiknya hanyut udara. “kenapa ada orang kayak dia??” cherin tampak begitu tertekan dengan kehadiran uya yang secara tiba-tiba dan mengganggu kehidupannya. Mengubah segala rutinitas cherin. “tapi…” ucap cherin lemah. Pikirannya seperti melayang ke masa lampau. Ingatan tentang kisah di masa kecilnya terlintas diotaknya seperti puzzle. Karena cherin tidak bisa memingat dengan jelas. Kadang kisah dalam ingatannya diputar seperti film lawas yang rusak. Ada beberapa adegan yang hilang. “dia…aku…so…ra…” kata cherin pelan dan lambat. Seoalah sedang menghadirkan bayangan sora kecil dan uya dihadapannya. Tak terasa air mata meleleh di pipinya. “sora…” kata-kata itu yang terus terucap dari mulut cherin. Hingga semua menjadi gelap, pikiran cherin masih dibungkus kerinduan mahadahsyat pada sahabat kecilnya.
To be continued…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar